Jumat, 28 Desember 2012

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA PADA MASA PRA KEMERDEKAAN

A.      Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
Pendidikan Islam menurut Zakiah Drajat merupakan pendidikan yang lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain yang bersifat teoritis dan praktis. (Zakiah Drajat,1996: 25)
Dengan demikian, pendidikan Islam berarti proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik (Insan Kamil).[1]
Perkembangan yang sangat pesat dirasakan sejak awal tahun 1900an. yaitu Para pemimpin pergerakan Nasional sadar bahwa penyelenggaraan pendidikan yang bersifat Nasional harus segera dimasukan dalam agenda perjuangannya. Maka lahirlah sekolah. Sekolah partikelir atas usaha para perintis kemerdekaan. Sekolah-sekolah itu semula memiliki 2 corak, yaitu :
1.         Sesuai dengan Haluan Politik
-            Taman Siswa, yang pertama didirikan di Yogyakarta.
-            Sekolah Serikat Rakyat di Semarang, yang berhaluan Komunis.
-            Ksatrian Institut, yang didirikan oleh Dr. Douwes Dekker (Dr. Setia Budi) di Bandung.
-            Perguruan Rakyat, di Jakarta dan Bandung.
2.         Sesuai dengan Tuntutan / Ajaran Agama (Islam)
-            Sekolah-sekolah Serikat Islam
-            Sekolah-sekolah Muhammadiyah
-            Sumatera Tawalib di Padang Panjang
-            Sekolah-sekolah Nahdhatul Ulama
-            Sekolah-sekolah Persatuan Umat Islam (PUI)
-            Sekolah-sekolah Al-Jami’atul Wasliyah
-            Sekolah-sekolah Al-Irsyad
-            Sekolah-sekolah Normal Islam

B.       Pendidikan Islam Sebelum Penjajahan Eropa
Pada awal berkembangnya agama Islam di Indonesia, pendidikan Islam dilaksanakan secara informal. Didikan dan ajaran Islam diberikan dengan perbuatan, contoh dan keteladanan. Pendidikan dan pengajaran Islam secara Informal ini ternyata membawa hasil yang sangat baik, karena dengan berangsur-angsur tersebarlah agama Islam keseluruh kepulauan Indonesia. Mulai dari Sabang sampai Maluku.
Karena dengan cepatnya Islam tersebar diseluruh Indonesia, maka banyaklah didirikan tempat-tempat ibadah seperti Mesjid, Langgar atau Surau, yang mana tempat-tempat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai tempat pendidikan yang sangat sederhana. Modal pokok yang mereka miliki hanya semangat menyiarkan agama dan semangat menuntut ilmu bagi yang belum memilikinya.
Tempat-tempat pendidikan Islam seperti inilah yang menjadi embrio terbentuknya system pendidikan pondok pesantren dan pendidikan Islam yang formal yang berbentuk madrasah atau sekolah yang berdasar keagamaan.
Usaha untuk menyelenggarakan pendidikan Islam menurut rencana yang teratur sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1476 dengan berdirinya Bayangkara Islah di Bintara Demak yang ternyata merupakan organisasi pendidikan Islam yang pertama di Indonesia. Dalam rencana kerja dari Bayangkara Islah disebutkan bahwa supaya mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat maka didikan dan ajaran Islam harus dibeikan melalui jalan kebudayaan yang hidup dalam masyarakat itu asal tidak menyalahi hukum syara’.
Untuk merealisasikan rencana ini, maka pada suatu Sidang Dewan Walisongo dan Kerajaan Demak, memutuskan bahwa semua cabang kebudayaan Nasional yakni filsafat hidup, kesenian, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan sebagainya sedapat mungkin diisi dengan anasir-anasir pendidikan dan pengajaran agama Islam. Kebijaksanaan Wali-wali menyiarkan agama dan memasukan anasir-anasir pendidikan dan pengajaran Islam dalam segala cabang kebudayaan nasional Indonesia, sangatlah memuaskan, sehingga agama Islam tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. [2]

C.      Pendidikan Islam di Zaman Penjajahan
1.          Pendidikan Islam Pada Masa Belanda
Kehadiran Belanda di jawa tidak hanya mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia , tetapi juga menekan politik dan kehidupan keagamaan rakyat. Segala aktivitas umat islam yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan ditekan. Belanda terus menerapkan langkah-langkah yang membatasi gerak pengamalan agama islam. Termasuk juga terhadap pendidikan islam sendiri.
Pada zaman kolonial Belanda telah didirikan beraneka masam sekolah, ada yang bernama Sekolah Dasar, Sekolah Kelas II, HIS, MULO, AMS dan lain-lain. Sekolah-sekolah tersebut seluruhnya hanya mengajarkan mata pelajaran umum, tidak memberikan mata pelajaran agama sama sekali, hal ini terkait kebijakan pemerintah colonial Belanda.  Pada tahun 1905 Belanda memberikan aturan bahwa setiap guru agama harus minta izin dahulu. Peraturan itu besar sekali pengaruhnya dalam menghambat perkembangan pendidikan islam.
Pada pertengahan abad 19 pemerintah Belanda mulai menyelenggarakan pendidikan model barat yang diperuntukkan bagi orang-orang Belanda dan sekelompok kecil orang Indonesia (bangsawan). 
 Selanjutnya pemerintah memberlakukan politik etis  yang mendirikan dan menyebarluaskan pendidikan rakyat sampai pedesaan. Belanda tidak mengakui para lulusan pendidikan tradisional , sehingga mereka tidak bisa bekerja di pabrik maupun sebagai tenaga birokrat.
Sejarah mencatat bahwa pada masa awal lahirnya islam , umat islam belum memiliki budaya membaca dan menulis karena belum adanya tuntutan dari perkembangan masyarakat. Disisilain tujuan sekolah belanda didirikan adalah untuk menghasilkan tenaga ahli yang dapat bekerja dengan baik namun digaji sangat murah daripada pekerja golongan Belanda yang didatangkan dari negeri Belanda. Inilah kemungkinan yang melatarbelakangi pendidikan formal berorientasi pad akerja dengan sifat-sifatnya kapitalis yang cinta pada harta benda atau sifat materialistic, sehingga mengalami berbagai mal praktek pendidikan yang dilakukan sekarang ini.
Umat islam pada masa itu mengenal dua bentuk lembaga pendidikan yang dikelola umat islam dan yang dikelola colonial. System pendidikan yang dikelola Belanda adalah pendidikan modern liberal dan netral agama. Namun kenetralan Belanda ternyata tidak konsisten karena Belanda lebih melindungi Kristen dari pada islam. Karena mereka menganggap islam memiliki kekuatan politik yang membahayakan mereka. Maka islam senantiasa mengalami tekanan dan selalu diawasi gerak geriknya.
Sikap belanda in didasarkan atas analisi Snouck Hurgronje  yang memilah islam pada tiga kategori yakni dalam arti ibadah, social kemasyarakatan, dan kekuatan politik. Pada kategori yang terakhir ini lah belanda bersikap menekan umat islam.
Kesempatan masyarakatn untuk memperoleh pendidikan pada masa itu didasarkan pada stratifikasi social yang rasial yakni ditentukan oleh kelas keturunan, jabatan, kekayaan, dan pendidikan orang tuanya. Berdasarkan stratifikasi social tersebut pendidikan pada masa colonial ada tiga macam yaitu pendidikan untuk bangsa belanda, pendidikan untuk pribumi kelas priyayi, pendidikan pribumi kelas rendah. Dan sekarang pun masih kita jumpai bahwa pendidikan elit terkesan didominasi kalangan kaya saja. Karena memang kalangan miskin tak mampu membayar semua kelengkapan fasilitas yang ada di dalamnya.
Oleh karenanya hendaknya system kapitalis di lingkungan pendidikan itu disingkirkan dan hendaknya membangkitkan beberapa organisasi islam antara lain Sarekat Islam berupaya mendirikan sekolah yang pada saat dimaksudkan sebagai tempat pendidikan untuk anak-anak anggota SI, karena kedudukan dan tingkat penghasilan orang tuanya memang tidak mungkin mendapat temapt dalam sekolah Hindia Belanda pada waktu itu.
Oleh karena itu pendidikan SI juga merupakan upaya counter attack kepada pihak colonial yang berusaha menganaktirikan kaum inlander dalam bidang pendidikan khususnya dan persamaan hidup pada umumnya.  Sebab saat itu bangsa Indonesia hanya dipandang sebagai penduduk kelas nomor tiga. Kelas nomor tiga adalah suatu kelas yang plaing rendah dalam negeri, dimana ornag Belanda sebagai kelas nomor satu, orang asing (termasuk cina) sebagai kelas nomor dua, sedangkan orang Indonesia sebagai kelas tiga.
Disamping itu system pendidikan yang diterapkan oleh colonial Belanda pada saat itu juga sangat tidak menguntungkan bangsa Indonesia, karena pada dasarnya bertujuan untuk menjadikan warga Negara yang mengabdi kepada kepentingan colonial Belanda.
Kedatangan Belanda di satu pihak memang telah membawa kemajuan teknologi , tetapi teknologi tersebut bukan dinikmati penduduk pribumi, tujuannya hanyalah meningkatkan hasil penjajahannya. Begitu pula dengan pendidikan, mereka telah memperkenalkan system dan metodologi baru, namun semua itu dilakukan sekedar untuk menghasilkan tenaga-tenaga yang daapt membantu segala kepentingan penjajah dengan imbalan yang murah sekali dibandingkan dengan jika mereka harus mendatangkan tenaga dari Barat.
2.          Pendidikan Islam pada masa Penjajah Jepang
Pendidikan pada zaman jepang disebut Hakku Ichiu yakni mengajak bangsa Indonesia bekerjasama dalam rangka mencapai kemakmuran bersama Asia Raya. Oleh karena itu bagi setiap pelajar setiap hari terutama pada pagi ahri harus mengucapkan sumaph setia kepada kaisar jepang, lalu dilatih kemiliteran.
Jepang mengadakan perubahan di bidang pendidikan, diantaranya menghapuskan dualisme pengajaran. Dengan begitu habislah riwayat penyusunan pengajaran Belanda yang dualistis membedakan antara pengajaran barat dan pengajaran pribumi. Adapun susunan pengajaran menjadi. Pertama, Sekolah Rakyat enam tahun (termasuk sekolah pertama). Kedua , sekolah menengah tiga tahun. Ketiga, sekolah menengah tinggi tiga tahun( SMA pada zaman jepang).  Terbukti bahwa system perjenjangan yang berlaku di Indonesia merupakan warisan masa penjajahan jepang.
Pada awalnya pemerintah jepang mengambil siasat merangkul umat islam sebagi mayoritas penduduk Indonesia. Sikap penjajah jepang terhadap pendidikan islam ternyata lebih lunak, sheingga ruang gerak pendidikan islam lebih bebas. Pesantren-pesantren yang besar sering mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar jepang. Sekolah negeri diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran agama. Pemerintah Jepang juga mengizinkan berdiirnya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim, Kahar Muzakir, dan Bung Hatta.
Pada perang dunia II kedudukan Jepang terjepit, akhirnya Jepang mulai menekan dan menjalankan kekerasan terhadap bangsa Indonesia. Jepang lalu memberlakukan romusha (kerja paksa), kemudian jepang membentuk badan-badan pertahanan rakyat semesta . kehidupan rakyat semakin tertindas dan menderita maka lahirlah berbagai pembertontakan.
Namun demikian masih ada beberapa keuntungan di balik kekejaman Jepang tersebut. Bahasa Indonesia hidup dan berkembnag secara luas di seluruh Indonesia, baik sebagai bahasa pergaulan, bahasa pengantar maupun sebagai bahasa ilmiah.
Buku-buku dalam bahasa asing yang diperlukan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kreatifitas guru-guru berkembang dalam memenuhi kekurnagan buku pelajaran dan menyadur atau mengarang sendiri, termasuk kreatifitas untuk menciptakan alat peraga dan model dnegan baha dan alat yang tersedia.
Pendidikan islam di zaman jepang dapat bergerak lebih bebas bila dibandingkan dari zaman belanda. Pada masa penjajahan jepang atas usaha Muhmud Yunus di sumatera barat, dapat disetujui oleh kepala jawatan pengajaran jepang untuk memasukkan pendidikan agama islam ke sekolah-sekolah pemerintah, mulai sekolah dasar.[3]


DAFTAR PUSTAKA

1 komentar :

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes