Rabu, 06 Maret 2013

KEBUTUHAN TASAWUF MASYARAKAT MODERN

"Manusia adalah mahluk Allah yang paling sempurna. kesempurnaan manusia itu membuatnya berbeda dengan hewan, tumbuh-tumbuhan, jin, setan, dan mahluk Allah lainnya. Dalam wacana sufistik, kesempurnaan manusia tersebut disebabkan memiliki aspek jasmani dan rohani. Diantara dua aspek ini, yang paling signifikan adalah aspek rohani, dan orang sering melihat bahwa hakikat manusia pada rohaninya.".


Dalam kajian tasawuf, rohani merupakan lawan dari jasmani yang sering diidentikkan dengan jiwa. Hal-hal yang berhubungan dengan muatan-muatan kejiwaan, esensinya sering disebut sebagai wacana spiritualitas, yang berarti esensi setiap manusia. Oleh karena itu fenomena manusia yang mengalami kegersangan jiwa, kegundahan hati, kebingungan, dan ketidak bahagiaan hidup, sering dialamatkan sebagai pertanda kekeringan spiritual.
Fenomena yang biasa timbul dari kekeringan spiritual ini ditandai dengan semakin jauhnya manusia dari tuhannya. Penyebabnya antara lain dapat dideteksi melalui fenomena kehidupan manusia yang terus dihadapkan pada situasi kepentingan, sedangkan kebutuhan hidup semakin mendesak. Kemudian apa yang terjadi?. Ternyata ekosistem manusia banyak yang diabaikan pada tujuan dan pamrih ekonomi, berebut kekuasaan. Mereka hidup dalam apa yang disebut oleh Max Weber sebagai “Semangat kapitalisme modern”.
Dalam kompetitif kehidupan masyarakat modern seperti sekarang ini, nampaknya manusia survival dalam mempertahankan kehidupannya, Mereka yang kurang kuat akan tersisih dengan sendirinya, dan ini dianggap wajar dan alamiah, sejalan dengan hokum alam. Masyarakat modern yang ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi ini, memang ada yang kalah dan ada yang menang. Yang kalah misalnya, orang yang tinggi posisinya tiba-tiba jatuh karena perubahan rezim, orang yang kaya raya karena bisnisnya sukses tiba-tiba bangkrut akibat krisis ekonomi. Dan juga karena kesibukan sehari-hari yang menimbulkan stress.
Kasus-kasus seperti diatas mengakibatkan munculnya orang-orang kecewa, putusasa dan stress. Karena kekecewaan dan keputusasaan ini terkait dengan jiwa serta hati nurani, maka tasawuf sangat dibutuhkan dan bermanfaat dalam rangka memelihara hati dari gangguan-gangguan tersebut. Terutama diera modern ini. Demikian pula karena tasawus tekanannya terhadap pemeliharaan hati, maka tasawuf juga berguna untuk menyembuhkan penyakit yang bersumber dari hati, dengan cara mengingatkan untuk senantiasa bersikap sabar dalam menghadapi berbagai macam cobaan hidup, sambil mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan ajaran-ajaranNya.
Dalam masyarakat yang berkeberagaman majemuk seperti Negara Indonesia ini, tasawuf menjadi sangat penting dan relevan untuk menjaga harmoni interaksi dan integrasi social.
Masyarakat Modern
Masyarakat modern adalah masyarakat yang cenderung menjadi sekuler, hubungan antara anggota masyarakat tidak lagi atas dasar prinsip tradisi atau persaudaraan, tetapi pada prinsip-prinsip fungsional an pragmatis. Masyarakat merasa bebas, bahkan sampai hamper lepas dari control agama dan pandangan dunia metafisis. Ciri-ciri yang Nampak jelas adalah penghilangan nilai-nilai sacral terhadap dunia, meletakkan hidup manusia dalam konteks kenyataan sejarah dan penisbian nilai-nilai.
Atha’ Mudzar menyatakan bahwa masyarakat modern dapat ditandai dengan lima hal:
1.       Berkembangnya mass culture, karena pengaruh kemajuan mass media, sehingga cultur tidak lagi bersifat local, melainkan nasional bahkan global.
2.       Menjamin sikap-sikap yang mengakui kebebasan bertindak manusia menuju perbuatan masa depan. Dengan demikian alam dapat ditaklukkan, manusia merasa lebih leluasa, bahkan sampai merasa lebih berkuasa.
3.       Tumbuhnya sikap rasionalistis, sebagian besar kebutuhan umat manusia ini diatur oleh aturan-aturan rasional.
4.       Tumbuhnya sikap hidup yang materialistic. Artinya semua hal diukur dengan nilai kebendaan dan ekonomi.
5.       Meningkatkan laju urbanisasi
Dari kemodernnan itu akhirnya berdampak pada hilangnya visi-keilahian dan kehampaan spiritual, dimana keduanya ini cukup berbahaya bagi kehidupan manusia.
Hilanya Visi-Keilahian
Manusia modern memperlakukan alam sama halnya dengan pelacur, mereka menikmati dan mengekploitasi untuk kepuasan dirinya tanpa ada rasa kewajiban dan tanggungjawab apapun, sehingga ia dapat menciptakan dan melakukan apa saja. Inilah yang membuat berbagai krisis dunia modern, tidak hanya dalam bidang moral tetapi juga dalam kehidupan social sehari-hari.
Idealnya sebagai hamba Allah, secara vertical dan horizontal berkedudukan sebagai khulafaurrosyidin. Manusia harus dapat menjaga keseimbangan hidupnya, bukan malah menjadi budak egonya. Sebagai hamba Allah, manusia harus positif dihadapan tuhannya dan menerima rahmat apapun yang diberikanNya. Tetapi sebagai kholifah, manusia harus aktif memelihara keharmonisan kosmos dan menyebarkan rahmat tuhan kepada mahlukNya. Dan ini merupakan amanat yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Jika tidak, maka akan muncul timbulnya bencana, problem dan krisis.
Sebagai kholifah fil ‘ardh, manusia paling tidak harus mampu menjalankan tugas kekholifahannya, yang oleh Prof. Dr. HM. Amin Syukur MA dapat diklasifikasikan menjadi tiga pokok:
a.       Memakmurkan bumi
Dengan bekal dan potensi panca indera, perasaan, intelektual, keimanan dan keinginan yang diberikan oleh tuhan, manusia harus mampu mengurus, memelihara, mengembangkan dan mengambil manfaat bagi kesejahteraan manusia.
b.      Menegakkan kebenaran dan keadilan
Menegakkan kebenaran dan keadilan merupakan salahsatu tugas kekholifahan yang penting, dimana Al-Qur’an sendiri telah berpesan agar dia memutuskan perkara secara adil dan benar, dan tidak mengikuti hawanafsu yang berlawanan dari jalan Allah yang dapat menyesatkan dari jalan atau perintahNya.
c.       Motivator dan dinamisator pembangunan
Sebagai kholifah, manusia yang ditengah-tengah masyarakat harus mampu mengaktualisasikan sebagai penyemangat dan penyelaras dalam mengerjakan kebaikan, baik secara vertical maupun horizontal.
Kehampaan Spiritual
Akibat dari terlalu menggunakan rasio, manusia modern mudah dihinggapi penyakit kehampaan spiritual yang berakibat terjadinya terjadinya gangguan kejiwaan. Dalam kesehatan mental gangguan kejiwaan berarti kumpulan dari keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan kejiwaan maupun jasmani. Keabnormalan tersebut terjadi bukan disebabkan oleh sakit atau rusaknya bagian-bagian anggota badan, walaupun gejala-gejalanya kelihatan pada fisik, akan tetapi banyak disebabkan oleh keadaan jiwa dan jasmani yang terganggu berpengaruh buruk pada kesejahteraan dan kebahagiaan. Gejala-gejalanya antara lain dapat dilihat dari segi perasaan, pikiran, tingkah laku dan kesehatan badan. Dari segi perasaan gejalanya antara lain menunjukkan rasa gelisah, iri, dengki, sedih, risau, kecewa, putus asa, bimbang, dan rasa marah. Dari segi fikiran dan kecerdasan gejalanya antara lain menunjukkan sifat lupa dan tidak mampu mengkonsentrasikan fikiran pada suatu pekerjaan karena kemampuan berfikir menurun. Dari segi tingkah laku antara lain menunjukkan tingkah laku yang menyimpang dan tidak terpuji, sepeti suka mengganggu lingkungan, mengambil milik orang lain, menyakiti dan menfitnah.
Kalau keadaan ini dibiarkan berlarut dan tidak dapat penyembuhan, maka penderita ini akan mengalami psycosomatik, yakni penyakit jasmani yang disebabkan gangguan kejiawaan. Penyakit ini belakangan ini banyak terjadi dimana-mana, terutama didaerah perkotaan yang persaingan gengsinya tinggi.
Karena berhubungan dengan kejiwaan, maka tasawuf menjadi lebih penting. Karena pentingnya, maka wajarlah akhir-akhir ini muncul halaqoh-halaqoh dzikir digelar diberbagai daerah, baik mereka yang mengikuti aliran-aliran tariqot maupun non tariqot.


Kebutuhan Tasawuf Masyarakat Modern
Perkembangan ilmu pengetahuan selaras dengan kebutuhan dan kegelisahan manusia. Kecerdasan otak yang diagung-agungkan mendadak luluh ditengah ketidakberdayaan emosi yang bertopang ambisi intelegensinya. Manusia sering dikejutkan dengan hal-hal ilmiah dan modern, tapi ternyata disatusisi mengoyak batinnya. Hidup yang bergemilang kesuksesan, tapi hati kering akibat dari dinginnya thuma’ninah. Maka muncullah pertanyaan dibenak kita, “apa sebenarnya esensi dari hidup ini?”.
Pencarian kebermaknaan hidup, ma’rifat, menyibak, memahami sesuatu dibalik yang tampak. Kebermaknaan berarti sesuatu yang memberikan makna secara mendalam. Melihat sesuatu yang tampak, lalu dibaliknya ada hal bermakna, contoh seseorang yang mempunyai pekerjaan tukang buat kursi ukir akan bosan dengan pekerjaannya itu bila hanya melihat yang tampak saja. Nah, makna yang dapat diambil dari pekerjaan tersebut tidak hanya mengukir kayu, lebih dari itu dia telah membuat nyaman dan senang orang yang memakai dan menempati kursi tersebut, ini semua harus difahami agar tidak bosan. Jadi esensi hidup itu mencari hakikat kehidupan yang bermakna, kebermaknaan bagi orang lain dan bagi diri sendiri. Kebermaknaan itu jalan menuju tuhan.
Adakah kaitannya pencarian kebermaknaan hidup dengan kecerdasan emosi dan spiritual manusia?.
Kecerdasan emosi merupakan sesuatu yang mutlak. Terapannya ketika kita berhubungan secara horizontal dengan sesame manusia, pengendalian diri, menghargai perbedaan dan sebagainya. Manusia juga dituntut mampu melihat kebaikan diri dan orang lain, melihat kejelekan diri dan orang lain. Apa yang kita lihat juga dapat menimpa pada diri kita dan mengalaminya. Sikap ini membutuhkan kemampuan spiritual tersendiri. Kecerdasan spiritual yang ada pada diri manusia merupakan refleksi ke-Tuhan-an. Dari refleksi ini kita dapat melakukan pencarian kebermaknaan kepada Tuhan, baik melalui kebermaknaan ayat-ayat qouliyah maupun kauniyah. Kita harus mempunyai kemampuan membaca fenomena alam disekitar kita, hingga mmenghasilkan kebermaknaan kepada Tuhan. Manusia harus tangguh melalui kehidupannya. Badai kesulitan yang menhadang harus disikapi dengan cerdas, baik secara emosi maupu spiritual. Maka kecerdasan spiritual merupakan tool bagi tasawuf, sehingga tasawuf benar-benar menjadi kebutuhan bagi masyarakat modern seperti sekarang ini.
Ajaran tasawuf akan memiliki tempat bagi masyarakat modern, karena mereka merasakan keringnya batin, dan kini pemenuhannya kian mendesak. Untuk itu, tasawuf perlu disosialisasikan pada msyarakat banyak. Dalam hal ini Husain Nasr memberikan konsep, bahwa ada tiga cara yang harus dilakukan sebagai berikut: pertama, turut serta berbagi rasa dalam upaya penyelamatan kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat hilangnya nilai-nilai spiritual. Kedua, memperkenalkan literature atau pemahaman tentang isoteris islam, baik terhadap masyarakat islam yang melupakannya maupun non islam, khususnya kepada manusia barat modern. Ketiga, unuk memberikan penegasan kembali bahwa sesungguhnya aspek isoteris islam yakni tasawuf, yang merupakan jantung ajaran agama islam.
Karena begitu pentingnya ajaran tasawuf, maka kiranya penulis perlu menyampaikan pengaruh-pengauh tasawuf dalam masyarakat modern.
Tasawuf Sebagai Terapi Penting Spiritual
Esensi agama islam adalah moral, yaitu moral seorang hamba dengan tuhannya, antara seorang dengan dirinya sendiri, dan antara dirinya dengan orang lain. Moral yang terjalin antara hamba dengan tuhannya menegaskan berbagai perilaku yang buruk, seperti tamak, rakus, gila harta, menindas, mengabdikan diri kepada selain Allah, membiarkan orang yang lemah, dan berkhianat. Demikian juga moral kepada sesama akan melahirkan laku yang positif. Mengapa tasawuf dapat dijadikan sebagai terapi spiritual?. Prof. Dr. HM. Amin Syukur MA. Member jawaban panjang yang intinya sebagai berikut:
Pertama, tasawuf secara psikologis merupakan bentuk dari pengalaman spiritual dan merupakan bentuk dari pengalaman langsung mengenai realitas-realitas ke-Tuhan-an yang cenderung menjadi inovator dalam agama.  Kedua, kehadiran tuhan dalam bentuk pengalaman mistis, dapat menimbulkan keyakinan yang sangat kuat. Pengalaman mistik seperti makrifat, ittihat, hulul, mahabbah dan lain sebagainya, mampu menjadi moral force bagi amal sholeh. Ketiga, dalam tasawuf hubungan manusia dengan Allah dijalin atas rasa kecintaan. Allah bagi sufi bukan dzat yang menakutkan, tetapi dia adalah dzat yang indah dan sempurna. Akibatnya seorang sufi gemar berbuat baik. Lebih lanjut dinyatakan, hubungan mistis dan berbagai pengalaman spiritual yang dirasakan oleh sufi juga dapat menjadi pengobat, penyegar, dan pembersih jiwa yang ada dalam diri manusia.
Dengan demikian berarti jelas secara rasional dapat dijadikan sebagai terapi krisis spiritual bagi manusia disegala zaman, utamanya dizaman modern seperti sekarang ini.


Pengaruh Tasawuf dalam Kehidupan Politik
Dalam kehidupan politik yang carut-marut seperti sekarang ini, tasawuf hendaknya memang harus dikedepankan, agar tidak terjadi timbulnya keretakan antar golongan politik yang ada, maka politikus yang jiwanya terpengaruhi oleh ajaran tasawuf insya Allah tidak akan terjadi adanya ketegangan – ketegangan yang sampai membawa korban jiwa, sebagaimana yang telah terjadi diberbagai daerah ditanah air ini. Dalam hal ini KH. Abdurrohman Wahid (gusdur), seorang politikus dan sekaligus seorang sufi pernah menyatakan :
“…..bahwa NU harus belajar dari pengalaman masa lalu untuk mewujudkan iklim keislaman yang sesuai dengan kondisi social dalam Negara yang multi agama dengan kondisi social dalam Negara yang multi agama dengan segala variasi orientasi pemikiran yang berbeda-beda. Yaitu dengan menampilkan perjuagan islam mewujudkan kepentingan kaum muslim dalam konteks perjuagan bangsa mewujudkan demokrasi, persamaan dan keadilan social berdasarkan sikap moderat yang mencari penyelesaian masalah-masalah yang mendasar dalam kehidupan social politik secara beradap agar tidak terjadi ketegangan yang dapat memecah kesatuan umat”. Dari pernyataan gusdur tesebut berarti ajaran tasawuf harus berpengaruh pada kehidupan masyarakat modern.
Pengaruh Tasawuf dalam Lembaga Pendidikan
Akhir-akhir ini banyak terjadi tawuran pelajar dimana-mana, terutama pada sekolah-sekolah umum maupun perguruan tinggi yang berakibat membuat kesan yang kurang baik dalam dunia pendidikan kita, maka dalam hal ini ajaran tasawuf hendaknya juga diajarkan pada lembaga-lembaga pendidikan, sehingga jiwa-jiwa mereka dapat terpengaruh oleh ajaran-ajaran tasawuf tersebut. Oleh karena itu, pendidikan pesantren dalam hal ini menjadi penting untuk terus ditumbuh kembangkan. Keberadaan pesantren dan proses perkembangannya hingga menjadi warisan dari generasi ke generasi yang mampu menanamkan nilai-nilai ruhani yang sangat ideal pada generasi berikutnya yang hingga kini masih dapat kita rasakan. Oleh karena itulah, wajar kalau sekarang pesantren-pesantren tersebut tetap eksis ditengah-tengah masyarakat.
Dari pengaruh tasawuf tersebut akhirnya dapat disimpulkan, bahwa tasawuf sangat dibutuhkan dalam masyarakat modern.
Dari uraian diatas akhirnya dapat disimpulkan sebagai berikut:
Masyarakat modern adalah masyarakat yang cenderung sekuler. Hal ini dapat ditandai dengan adanya hubungan antar anggota masyarakat tidak lagi atas dasar persaudaraan dan tradisi, akan tetapi sudah terkontaminasi dengan kehidupan fungsionalis dan pragmatis, mereka hidup dengan konteks kenyataan individualistis.
Masyarakat modern sangat membutuhkan tasawuf, baik dalam kehidupan social, politik, pendidikan, dan aqidah. Karena kehidupan masyarakat modern banyak dilanda oleh problem-problem yang sangat komplek yang hamper tidak ada terapinya kecuali terapi sufistik.

DAFTAR PUSTAKA
Amin Syukur, Prof. Dr. H. MA, Zuhud di Abad Modern, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000
Alwi Sihab, Prof. Dr. KH. MA, Islam Sufistik, Mizan, Bandung, 2001, Cet. 1
Yahya Jaya, Spiritual Islam dalam Menumbuhkan Kepribadian dan Kesehatan Mental, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994
M. Solihin, DR. M.Ag, Tasawuf Tematik, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2003, Cet. 1
Sudirman Tebba, Islam Pasca Orde Baru, PT. Tiara Wacana, Yogyakarta, 2001

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes